Kamis, 30 Januari 2014

Fungsi Catalitic Converter Pada Kendaraan

Konverter katalisis atau catalytic converter (CC) tidak terlalu banyak diketahui kalangan awam. Perangkat ini mulai digunakan di setiap mobil baru di Indonesia pada 2007. Saat itu, standar Euro2 diberlakukan untuk gas buang. Untuk memenuhi standar tersebut, setiap kendaraan bermesin diesel dan bensin harus menggunakannya.


Mahal
CC berupa katalisator yang dipasang di ruang setelah saluran buang. Fungsinya menyaring hidrokarbon (bensin yang belum atau tidak terbakar) dan polutan lain yang dihasilkan oleh mesin. Hanya sebagian kecil orang yang tahu, katalisator ini harganya mahal. Pasalnya, ia dibuat dari bahan platinum (platina) dan paladium. Karena itu pula, bisnis pengumpulannya (daur ulang) berkembang, termasuk di Tanah Air.


Cara kerja
Katalisator CC adalah saringan berbentuk sarang lebah yang dibuat dari logam platinum atau paladium yang disatukan melalui blok keramik. Ketika gas buang menyentuh logam (katalisator), reaksi kimia terjadi berupa penghilangan beberapa kandungan atau senyawa yang berbahaya, seperti hidrokarbon (HC). Alhasil, gas buang yang keluar dari knalpot bisa lebih bersih. Sementara itu, logam yang digunakan sebagai katalisator tidak berubah sifat.

Kendati demikian, berdasarkan penelitian, umur pakai logam yang digunakan pada CC juga mengalami degradasi (penurunan kemampuan). Pada komponen saat ini, setelah digunakan 100.000 km, kemampuannya menurun 35 persen.

Bila diukur berdasarkan lamanya mesin hidup berdasarkan jarak, maka usianya bisa saja lebih pendek. Pasalnya, kemacetan semakin parah sehingga mesin bekerja lebih lama (termasuk CC), sementara jarak tempuh mobil lebih sedikit. Di lain hal, nilai logam yang digunakan pada CC bisa mencapai 60 persen-70 persen dari total harga CC.

1 komentar: